https://www.franchisewaralaba.com – Bias dan diskriminasi masih merupakan salah satu masalah yang menghinggapi sistem rekrutmen perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat hingga kini

Hipotesis ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Harvard beserta Universitas Northwestern yang meneliti pola diskriminasi dalam perekrutan kerja.

Berdasarkan temuan mereka, calon karyawan kulit putih mendapat kesempatan lebih besar 35% untuk diterima bekerja dibandingkan dengan kulit hitam.

Stephanie Lampkin, seorang lulusan dari Master of Information Technology Sloan mencoba memecahkan masalah ini dengan mendirikan Blendoor.

Blendoor adalah perusahaan teknologi yang bergerak di bidang perekrutan karyawan dengan visi menciptakan dunia perekrutan yang lebih inklusif.

Stephanie sendiri terdorong oleh pengalamannya ditolak oleh Google hanya karena dirinya merupakan keturunan Afrika-Amerika.

Salah satu strategi Blendoor untuk memerangi bias dalam perekrutan karyawan adalah dengan tidak menyertakan nama ataupun foto dalam resume yang ditawarkan kepada perusahaan.

Bermula dari Pengalaman Pahit

Seperti kebanyakan pendiri perusahaan teknologi pada umumnya, Stephanie juga memiliki latar belakang sebagar programer ketika belajar mengkoding pada usia ke 13 tahun.

Ilmu mengkoding yang didapatkan oleh Stephanie berasal dari bibinya, Gretha yang merupakan mahasiswa Ilmu Komputer di Universitas Maryland.

Tidak hanya mengajarkan ilmu koding dasar, sang bibi bahkan turut mengajak Stephanie bergabung ke dalam organisasi non-profit yang bernama Black Data Processing Associates (BDPA)

baca juga

Pada usia sekolah menengah pertama, Stephanie sudah bisa menguasai prinsip-prinsip Full Stack Developer berkat keikutsertaannya dalam BDPA.

Latar belakangnya sebagai ilmu koding berhasil mengantarnya masuk ke Stanford University dan lulus dengan gelar sarjana teknik komputer.

Stephanie Lampkin Pendiri Blendoor, startup pencari kerja dengan prinsip inklusifitas

Stephanie langsung diterima bekerja di Microsoft yang merupakan impian dari banyak sarjana teknik komputer di Amerika Serikat .

Sempat bekerja 5 tahun di sana, Stephanie kemudiian melanjutkan pendidikannya di Sloan untuk belajar tentang Kewirausahaan.

Stephanie sempat mendirikan Hoowenware yang fokus untuk membantu orang merencanakan liburan mereka, yang kemudian ia tinggalkan.

Berpaling dari proyek pertamanya, ia memutuskan mencoba untuk melamar di Google.

Memiliki pengalaman dan kemampuan segudang dalam dunia pemrograman, Stephanie harus menerima kenyataan ditolak oleh Google untuk posisi Analytical Lead.

Meski ditolak tanpa alasan yang jelas, Stephanie mendapati fakta bahwa Google lebih memprioritaskan posisi penting untuk orang berkulit putih.

Tiga bulan setelah peristiwa penolakan tersebut, Stephanie memutuskan untuk mendirikan Blendoor.

baca juga

    Melihat dari Celah Bisnis

    Salah satu visi Blendoor adalah untuk menyediakan calon tenaga kerja bagi setiap perusahaan teknologi tanpa memandang latarbelakangnya.

    Blendoor memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menyajikan data performa dari calon pencari kerja kepada perusahaan

    Stephanie menekankan bahwa kecerdasan buatan yang dikembangkannya mampu menyimpulkan track record dari calon tenaga kerja dengan menghimpun data seperti review atasan, penghargaan atas kinerja, dan data lainnya.

    Tidak hanya menyajikan data tentang karyawan, Blendoor juga menyajikan data yang menunjukkan tingkat inklusivitas suatu perusahaan yang bisa menjadi rujukan bagi karyawan untuk melamar pekerjaan.

    Stephanie mengungkapkan bahwa semua fitur yang disediakan oleh Blendoor merupakan hasil pengamatan terhadap celah yang muncul dari para pelaku industri perekrutan.

    Selama ini bisnis rekrutmen tidak mampu menghadirkan sistem yang mampu mengurangi kemungkinan bias dalam hal perekrutan karyawan.

    Adanya bias yang muncul dalam perekrutan berpotensi mempengaruhi performa suatu perusahaan karena hilangnya kesempatan mendapatkan talenta berkualitas.

    Harapan Stephanie, Blendoor akan menjadi rujukan bagi setiap perusahaan untuk menentukan promosi, mutasi, hingga pengupahan.

    Menurut CareerBuilder, 55% pemimpin divisi sumber daya manusia akan berpaling kepada teknologi kecerdasan buatan untuk menentukan keputusan terkait dengan perekrutan.

    Selain itu ia meramalkan bahwa bisnis yang bergerak di bidang kecerdasan buatan akan perlahan-lahan menggeser perusahaan yang masih bertahan dengan cara konvensional.

    Salah satu dampak nyata yang dihasilkan oleh Blendoor adalah berhasil membantu perusahaan meningkatkan karyawan dari kalangan wanita sebesar 2 kali lipat dan dari kalangan minoritas sebesar 6 kali lipat.

    Hingga saat ini Blendoor telah mengumpulkan lebih dari 10.000 data calon tenaga kerja yang menjadi rujukan  berbagai perusahaan seperti  Google dan Facebook.

    bac ajuga

      Tokoh Panutan dalam Berbisnis

      Dalam perjalanannya mendirikan Blendoor, Stephanie mengaku sangat terinspirasi oleh tokoh tokoh hebat macam Bill Gates.

      Tumbuh besar mengejar impian sebagai programmer hebat, Stephanie mengidolakan Bill Gates karena sama-sama berasal berlatar belakang komputer.

      Ia mengagumi etos kerja Bill Gates dalam membesarkan perusahaan Microsoft hingga sekarang ini.

      Akan tetapi setelah beranjak dewasa, Stephanie berpendapat bahwa tokoh seperti Bill Gates tidak lagi menginspirasi karena fakta bahwa Bill Gates memang sudah lahir dari keadaan yang istimewa.

      Sebagai orang yang masa kecilnya hidup dalam kesusahan, Stephanie menyadari bahwa kisah Bill Gates tidaklah relevan dengan dirinya.

      Oleh karena itu ia beralih mengidolakan Serena Williams dan Oprah Winfrey karena dilandasi dua hal, sama-sama berasal dari latar belakang ekonomi biasa dan minoritas yang termarjinalkan.

      baca juga

      Pesan untuk Para Penyuka Kecerdasan Buatan

      Sebagai salah satu pelopor industri yang mengandalkan kecerdasan buatan, Stephanie memilliki pesan bagi mereka yang ingin terju ke dalam industri ini.

      Stephanie mengatakan bahwa mereka yang berniat terjun ke dunia kecerdasan buatan harus benar-benar akrab dengan perkembangan teknologi ini.

      Ia juga mengungkapkan bahwa mereka juga harus bisa menciptakan batas yang tegas antara fungsi kecerdasan buatan untuk kepentingan umat manusia ataupun untuk menciptakan keuntungan semata.

      Stephanie juga mengingatkan bahwa mereka juga tidak perlu menggantungkan pendidikan mereka kepada lembaga-lembaga pendidikan ternama.

      Menurutnya, pendidikan mandiri berbasis online juga mampu memberikan ilmu yang tak kalah berguna dibandingkan dengan menghadiri kelas di universitas.

      You May Also Like