franchise-waralaba.com – Kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja yang mengusahakannya.

Kalimat ini sejatinya mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dijalankan.

Banyak orang yang menganggap bahwa semakin tinggi pendidikan maka jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

Pada kenyataannya, sukses justru diraih oleh mereka yang mau mencoba dan tidak takut akan tantangan.

Hal ini dibuktikan langsung oleh Sanawi, seorang juragan usaha eskrim yang tidak lulus sekolah dasar hingga sempat menjadi kuli bangunan.

Tidak hanya dianggap bakal memiliki masa depan yang suram, Sanawi juga sempat diejek bahkan tidak diperbolehkan untuk menumpang di rumah temannya.

Meski sempat menjadi kuli bangunan, keteguhan dan kenekatannya dalam mencoba menjalankan bisnis telah berhasil mengantarnya juragan bisnis dengan omzet sekitar 1,5 millyar per bulan.

Yang lebih mengesankan, Sanawi berhasil mencapai kesuksesan tersebut dalam kondisi buta huruf alias baru bisa membaca setelah usahanya berhasil maju.

Lahir Miskin dan Sering Diejek

Sanawi lahir di Blora, sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah yang tekenal dengan hasil hutannya.

Selama masa kecilnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggembalakan sapinya daripada menamatkan pendidikan sekolah dasar.

Alasan utamanya, keluarganya tidak sanggup untuk membiayai pendidikannya sehingga bersekolah dianggap sebagai barang mewah bagi Sanawi.

Tidak memiliki kemampuan menulis dan membaca dasar, Sanawi harus menerima kenyataan menjadi bulan-bulanan teman sebayanya yang berkesempatan untuk sekolah.

Karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik di kampung, Sanawi nekat merantau ke Jakarta dengan uang yang didapat dari menjual umbi-umbian.

Sanawi, Sukses Menjadi Pebisnis Eskrim dari Kuli Bangunan

Naas, Sanawi justru ditipu oleh rekannya dari kampung yang kemudian mengambil uangnya untuk bertahan hidup di Jakarta.

Pada waktu itu yang bisa dilakukan oleh Sanawi hanyalah menangis sesengukan karena tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan keadaan kalut, Sanawi mencoba untuk menghubungi teman-temannya yang ada di Jakarta untuk menumpang tempat tinggal

Bukannya ditolong, Sanawi justru ditolak teman-temannya karena dianggap terlampau miskin

Namun karena kebulatan tekad, Sanawi memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk kedua kalinya, kali ini menjadi kuli bangunan.

Ia berpikir banyaknya pembangunan di Jakarta pada waktu itu akan banyak membutuhkan tenaga.

Merasa puas dengan menjadi kuli bangunan di Jakarta, ia memutuskan untuk menyeberang ke seberang pulau, lebih tepatnya ke Samarinda. Lagi-lagi sebagai kuli bangunan.

Menjajal Peruntungan di Eskrim

Meski tidak memiliki modal pendidikan formal dan hanya bekerja sebagai kuli bangunan, Sanawi tidak menyerah untuk dapat memperbaiki kehidupannya.

Demi menambah pendapatannya, ia memutuskan menyambi menjadi pedagang es krim keliling dengan modal Rp 60.000 hasil meminjam dari temannya sesama kuli bangunan.

Sanawi kemudian menjajakan dagangannya setiap sore menjelang maghrib dengan sepeda berkeliling ke pemukiman-pemukiman terdekat.

baca juga

Dengan harga jual Rp. 1.000, Sanawi nekat menawarkan dagangannya meski harus menerima banyak bentuk penolakan mulai dari para orangtuanya yang tidak mau anaknya jajan hingga ejekan terhadap fisiknya.

Tak menghiraukan berbagai penolakan tersebut, Sanawi tetap meneruskan pekerjaan sampingannya hingga berhasil membeli sebuah motor.

Didorong keinginan yang kuat untuk bisa sukses dari jalannya menjadi pedagang eskrim, Sanawi memberanikan diri untuk bergaul dengan pengusaha eskrim lain yang lebih sukses.

Hal tersebut dilakukan Sanawi berkat dorongan dari anaknya yang juga mengajarinya membaca.

Selang beberapa waktu, usaha eskrim milik Sanawi mulai menuai sukses dan membuatnya bisa berhenti dari aktivitas sebagai kuli bangunan.

Bahkan, Sanawi juga mulai mengajak beberapa kawannya sebagai kuli bangunan untuk bekerja sebagai distributor di usaha eskrimnya.

Pada tahun 2010 berkat jerih payahnya mempelajari seluk beluk industri eskrim, Sanawi berhasil membesarkan usahanya hingga memiliki 400 mitra pengecer.

Tidak puas dengan angka tersebut, Sanawi masih menyempatkan diri untuk berkeliling Indonesia untuk menambah jumlah mitra kerjasama yang dimilikinya.

Hasilnya, Sanawi kembali berhasil menambah mitranya menjadi 700 orang yang tersebar di  beberapa daerah seperti Samarinda, Balikpapan, Manado, Batam hingga Jakarta.

Sanawi menargetkan eskrim dagangannya akan bisa dinikmati oleh seluruh orang Indonesia.

baca juga

    Peduli Kepada Mitra

    Sanawi sadar betul bahwa kesuksesan penjualan eskrimnya ada di tangan penjual yang dalam hal ini adalah para mitranya.

    Untuk tetap menjaga eskrim dagangannya tetap disukai oleh para pelanggan, Sanawi tidak segan-segan memberikan pelatihan kepada para mitranya agar bisa memberikan pelayanan yang terbaik.

    Sanawi juga terkadang memantau langsung proses penjualan yang dilakukan dari mitra kepada konsumen.

    Berkat hal tersebut, Sanawi tidak hanya sukses membesarkan usaha eskrimnya namun juga bisa menyejahterahkan mitra-mitranya.

    baca juga

      Belajar Membaca di Umur 35

      Berhasil mengenyam kesuksesan dan membalikkan nasibnya dari profesi kuli bangunan, tidak membuat Sanawi jumawa.

      Sebaliknya ia tetap berkeinginan untuk bisa membaca meski kini memiliki keleluasaan untuk mempercayakan urusan surat menyurat kepada karyawannya.

      Malahan Sanawi tetap merasa menyesal tidak bisa mendapatkan pendidikan sewaktu dirinya kecil dulu karena yakin usahanya akan jauh lebih sukses jika ia bersekolah.

      Pada tahun 2010 yang lalu, Sanawi secara resmi memulai belajar membaca dan menulis yang diajar langsung oleh anaknya yang sudah bersekolah.

      Sanawi berpendapat ketidakmampuan dirinya dalam membaca dan menulis bisa mempengaruhi bisnisnya kelak.

      baca juga

      Ia banyak mendapat nasihat dari temannya ia bisa saja ditipu dengan dokumen perjanjian yang tidak menguntungkan baginya.

      Saat ini selain menjalankan usaha penjualan eskrim, Sanawi juga menjalankan berbagai bisnis lainnya seperti penyewaan kontainer, penjualan daging beku, dan bisnis minimarket waralaba.

      Sanawi juga sudah memiliki pabrik eskrim sendiri yang bisa memproduksi sekitar 40.000 cone dalam sehari dan 9.000 ember eskrim dalam sebulan.



      You May Also Like