Seseorang yang memiliki talenta menjadi wirausahawan biasanya memiliki sifat-sifat seperti ulet dan tidak mudah menyerah.

Kedua sifat itulah yang membuat Edy Ongkowijaya dapat meraih sukses menjadi seorang pengusaha mesti harus memulai dengan berbagai kesulitan.

Edy Ongkowijaya , Dari Tukang Cuci Piring Hingga Menjadi Pebisnis Ayam Penyet di 5 negara.

Edy Ongkowijaya adalah pemilik salah satu restoran ayam penyet ternama di Indonesia yang bernama D’Penyetz.

Kemampuan Edy mengelola bisnis tidaklah main-main, hal ini dibuktikan dengan berhasil mendirikan jaringan restorna D’Penyetz di 5 negara.

Berkat ketangguhan dirinya yang ditempa oleh kesulitan hidup sewaktu kecil memberinya banyak pengalaman dalam menjalankan bisnis.

Berawal dari Kebangkrutan Ayahnya

Edy Ongkowijaya sebetulnya lahir dari keluarga yang berada.

Ia beruntung dapat menikmati pendidikan yang mumpuni dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Bahkan ia pun mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah menengah pertama di luar negeri, tepatnya di Singapura.

Naas, ia justru harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya mengalami kebangkrutan ketika ia tengah mengenyam pendidikan di luar negeri.

Salah satu kemungkinan terburuk yang harus dihadapi oleh Edy pada waktu itu adalah ia harus rela gagal menamatkan sekolahnya di sana.

Bertekad untuk tetap sekolah di Singapura, ia memutuskan untuk tidak menghiraukan permintaan ayahnya untuk pulang ke Indonesia.

Keputusan tersebut akhirnya dijalani oleh Edy dengan perjuangan yang sangat berat, Ia harus hidup dari bekerja secara serabutan sambil tetap menjalani sekolah.

Tidak tanggung-tanggung, di usianya yang baru menginjak 18 tahun ia sudah harus melakoni empat pekerjaan berbeda dalam satu minggu.

Ia sudah merasakan menjadi tukang cuci piring dan pelayan di restoran, setelah pulang ia melanjutkan pekerjaan menjadi guru les privat dari anak seorang keluarga di sana.

Edy pun juga mengambil pekerjaan pada akhir pekan dengan menjadi guru badminton.

Tidak cukup menjalani hidup dengan pekerjaan yang teramat berat, Edy juga harus mengalami pahitnya dihina oleh orang lain.

Ia pernah dihina oleh ibu pacarnya yang memang kebetulan dari keluarga berada, bagaikan bumi dan langit dengan keadaan Edy kala itu.

Kejadian tersebut semakin melecut Edy untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meskipun harus merangkak dari bawah.

baca juga artikel category

Pada tahun 2000, Edy berhasil menjadi sarjana pemasaran dari Nanyang Polytechnic dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan asal Jepang.

Edy bertahan di perusahaan tersebut selama tiga tahun demi menyekolahkan adiknya yang menyusul kemudian ke Singapura.

Pada tahun 2004 ia memulai peruntungannya menjadi seorang pengusaha restoran dengan membuka waralaba es teler 77 pertama di Singapura.

Mendirikan D’Penyetz

Meskipun usaha pertama Edy berjalan cukup sukses, ia tidak betah berlama-lama mengurus bisnis es teler tersebut.

Menginginkan tantangan baru, Edy pun mencoba bisnis waralaba lain yaitu ayam penyet di area ternama di Singapura yaitu di Orchard Road.

Usaha ini kembali meledak hingga membuat namanya terkenal sebagai alumni Nanyang Polytechnic yang sukses menjadi wirausaha.

Sayangnya bulan madu antara Edy dengan usaha ayam penyetnya ini tidak bertahan lama.

Ia sempat harus menangguk rugi karena mendapatkan mitra bisnis yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu mitra yang merupakan teman sekolahnya dulu bahkan melarikan dividen yang seharusnya dibagikan kepadanya.

Tahun 2008, Edy harus minggat dari Orchard Road untuk kembali memulai usaha dari awal karena bisnis tersebut berakhir bangkrut Tidak patah arang, Edy pun kembali membuka bisnis ayam penyet yang kali ini merupakan idenya sendiri. Ia kembali memulai usaha tersebut dari sebuah food court yang berada di daerah Jurong dengan nama Dapur Penyet.

Kembali mendirikan usaha dapur penyet, ia seperti tidak bisa lepas dari cobaan.

Baru bekerja tiga hari, tenaga kerja yang didatangkannya harus dipulangkan oleh Kementerian Tenaga Kerja setempat karena dianggap  illegal.

Khawatir jika rasa masakannya akan terpengaruh jika ia kembali mempekerjakan orang baru, ia memutuskan untuk mempelajari sendiri resep ayam penyetnya selama tiga hari

Bahkan sambil melakukan hal tersebut, ia juga harus banyak melakukan aktivitas di gerainya secara mandiri, mulai dari mencuci piring, mengurus kasir, hingga membuang sampah dan menutup toko.

Hal tersebut seperti mengulangi masa lalunya ketika masih menjadi karyawan restoran.

2 tahun setelah berdiri, Edy berhasil meningkatkan bisnisnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi.

Untuk mendukung ekspansi bisnisnya tersebut Edy memutuskan untuk melakukan rebranding bisnisnya dari Dapur Penyet menjadi D’Penyetz untuk dapat masuk ke negara lain.
Berkat kegigihan dan pengalamannya dari masa lalu, Edy sudah berhasill mendirikan sekitar 100 cabang D’Penyetz yang tersebar di negara –negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Indonesia sendiri.
Bahkan ia menargetkan untuk dapat membuka cabang di negara yang tidak begitu famiiar dengan masakan ayam penyet seperti Australia, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.

baca juga

    Banyak Berteman Dengan Artis

    Edy memiliki pengalaman unik yaitu ketika ia menjadi kenal banyak dengan para artis asal Indonesia yang banyak berkunjung ke gerainya.

    Pengalaman tersebut ia dapatkan ketika gerai ayam penyetnya yang pertama banyak dikunjungi oleh artis-artis dari Indonesia yang sedang berlibur ke Singapura.

    Karena sering banyak bertatap muka dan bertegur sapa dengan beberapa dari artis tersebut, Edy perlahan namun pasti mulai mengembangkan networking dengan dunia hiburan.

    Kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan dengan mencoba mendirikan Event Organizer kecil-kecilan untuk mendatangkan artis Indonesia ke Singapura.

    Sejak tahun 2008 hingga 2013, sembari menjalankan bisnis ayam penyet ia juga mendatangkan beberapa artis ternama dari Indonesia seperti Peterpan (eks-Noah), Ungu, Samsons, hingga Rossa.

    baca juga

    Memiliki Jiwa Amal

    Memilki pengalaman hidup dalam kesulitan membuat jiwa beramal Edy tumbuh.

    Meski sempat mengalami beratnya harus membiayai pendidikannya sendiri sejak sekolah menengah pertama. Edy mengaku bahwa hidupnya masih lebih beruntung dari kebanyakan orang.

    Seringkali di tengah-tengah waktu luang ketika ia berkunjung ke Indonesia untuk mengurus bisnisnya, Edy mampir ke beberapa panti asuhan.

    Kedatangan Edi sendiri tidak hanya untuk sekedar berkunjung namun turut membagikan inspirasi dari pengalaman hidupnya selama di Singapura.

    Edy pun bermimpi suatu hari nanti ia dapat membiayai, tidak hanya keluarganya saja tetapi juga anak-anak panti asuhan yang kurang beruntung tersebut.

    Edy juga ingin mendirikan yayasan untuk membiayai anak-anak yang memiliki potensi akademik cemerlang yang datang dari keluarga tidak mampu suatu hari nanti.

    error: Content is protected !!