Undercover.coid – Bukan rahasia lagi bila kacamata adalah fashion item yang populer dan menjadi trend dalam gaya berpakaian saat ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan tepatnya kacamata menjadi fashion item. Namun, ada beberapa anggapan yang mengatakan bahwa kacamata mulai digunakan sebagai aksesoris berbusana ketika aktor menggunakan kacamata di film yang mereka mainkan.

Kemudian, banyak penikmat film yang merasa penggunaan kacamata tersebut keren dan menirunya. Akhirnya, kacamata pun menjadi barang dengan fungsi ganda, yang awalnya sebagai alat bantu penglihatan, sekarang juga digunakan sebagai fashion item yang khas.

Perjalanan Panjang Optik Kasoem

Banyak toko penjual kacamata atau yang disebut optik, menyediakan kacamata sebagai aksesoris. Bahkan, beberapa optik lebih fokus pada penjualan kacamata sebagai aksesoris daripada sebagai alat bantu penglihatan. Hal ini disebabkan oleh trend kacamata sebagai fashion item yang selalu up to date seiring perkembangan dan kemajuan mode.

Tidak terkecuali di Indonesia. Banyak optik yang bermunculan dan bersaing untuk menyediakan kacamata model terbaru hingga kacamata dengan teknologi termutakhir. Namun, tidak banyak optik yang bermula dari usaha lokal dan memiliki kisah perjalanan bisnis yang panjang. Satu di antara optik lokal yang sempat berjaya dan masih eksis hingga saat ini adalah Optik A. Kasoem .

  1. Kasoem atau Atjoem Kasoem adalah pengusaha sekaligus pemilik optik pertama di Indonesia. Ia lahir di Garut dan tinggal di Bandung. Ia menempuh pendidikan hingga tingkat Taman Dewasa di Perguruan Taman Siswa. Setelah tamat sekolah, A. Kasoem bekerja sebagai asisten pemilik toko kacamata (optisi) bernama Kurt Schlosser, yang berkebangsaaan Jerman. Melihat niat dan kesungguhan belajar A. Kasoem, Kurt Schlosser memintanya untuk tetap belajar dengan tekun agar bisa mewarisi usahanya. Hingga suatu waktu, A. Kasoem memiliki toko kacamata sendiri yang ia buka di Jalan Pungkur, Bandung. Ia pun menjadi orang Indonesia pertama yang memiliki usaha di bidang optik.

Usaha A. Kasoem di bidang optik tersebut semakin berkembang. Ia lalu bisa melakukan ekspansi dengan membuka cabang toko di beberapa kota di Indonesia, seperti Solo, Yogyakarta hingga Jakarta. Dengan usaha yang kian berkembang tersebut, ia turut aktif membantu para pejuang kemerdekaan. Pergaulan para pejuang pun semakin luas karena A. Kasoem dan sebagai balasannya mereka juga turut membantu usaha A. Kasoem.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, toko-toko A. Kasoem berpindah tangan. Namun, dengan bantuan Bung Hatta dan Ki Hadjar Dewantara, A. Kasoem diperbolehkan memiliki toko kacamata di Jalan Braga, Bandung. Pada peristiwa Bandung Lautan Api, A. Kasoem dan keluarganya mengungsi ke Klaten, Jawa Tengah. Ia kemudian membuka toko kacamata di Yogyakarta dan pabrik penggosok kacamata di Klaten, atas saran Bung Hatta.

Menang Melalui Pengadilan Bandung

Tidak lama setelah keadaan membaik, A. Kasoem kembali lagi ke Bandung. Namun, tokonya di Jalan Braga sudah dikuasai orang lain. Ia tidak tinggal diam dan berusaha merebutnya kembali melalui pengadilan. Ia pun menang dan membuka toko kacamatanya lagi pada 1955, serta berusaha membuka jaringan tokonya ke berbagai daerah.

Meski sudah berhasil membangkitkan usahanya, A. Kasoem merasa ingin memperdalam keahlianya. Selang beberapa waktu kemudian, ia meneruskan belajar tentang dunia optik yaitu pembuatan lensa kacamata, dengan langsung ke Jerman.

Kemudian, ia mendirikan pabrik lensa bifokus pertama sekaligus yang terbesar di Asia pada 1970 dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubowono IX pada 1974. Dengan perkembangan bisnis A. Kasoem tersebut, ia mendapat penghargaan sebagai pionir optik di Indonesia. Sayangnya, ketika ada krisis ekonomi, tepatnya pada 1997, pabrik lensa A. Kasoem ditutup.

baca juga

    Dewan Kurator Perguruan Tinggi

    Selain sibuk dengan bisnis optiknya, A. Kasoem melakukan kerja sambilan sebagai dewan kurator (pembina mahasiswa di masa itu) beberapa perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan dan Himpunan Mahasiswa Indonesia. Ia juga tercatat sebagai anggota pertama Ilmu Pengetahuan Optik Jerman Barat yang berasal dari Asia.

    1. Kasoem meninggal di usia 63 tahun, tepatnya pada 11 juni 1979. Sepeninggalnya, usaha optiknya dilanjutkan oleh delapan anak-anaknya. Mereka mewarisi ketekunan bisnis yang sama dari A. Kasoem. Merk dagang “A. Kasoem” masih tetap digunakan hingga sekarang, tetapi anak-anak A. Kasoem juga memperluas usaha optik keluarganya dengan merk dagang baru, seperti Kasoem Jr, Kasoem, Lily Kasoem, Leopard, Cobra, dan sebagainya. Ekspansi usaha Optik A. Kasoem juga sudah menyebar ke kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Serang, Cirebon, Karawang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, hingga ke luar Jawa.

    Kini, nama Optik A. Kasoem sangat terkenal dan bersejarah di Indonesia, terutama bagi pebisnis optik. Banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi pada usaha Optik A. Kasoem yang dilakukan oleh generasi penerusnya. Jika dulu A. Kasoem menjual kacamata dengan tujuan membantu meningkatkan daya penglihatan, sekarang anak dan cucunya mengembangkannya dengan menjual kacamata yang juga berfungsi sebagai fashion item.

    Produk optik yang dijual masih tetap, yaitu kacamata, lensa kacamata, frame, dan kontak lensa. Beberapa merk yang dijual di Optik A. Kasoem adalah Lastes, Renato Balestra, Ice Berg, West, Neostyle, Moschino, Valentino Rudy, dan sebagainya, yang dijual dengan varian harga mulai dari Rp 200.000,-.

    Mengutamakan Pengabdian kepada Masyarakat

    Tidak hanya perkembangan produk optik, generasi penerus A. Kasoem juga mengembangkan pelayanan untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Salah satu yang rutin dilakukan adalah memberikan harga istimewa dan diskon pada waktu tertentu, batas pembelian tertentu, dan jenis produk optik tertentu. Optik A. Kasoem saat ini juga mengutamakan kondisi penglihatan masyarakat.

    Upaya yang dilakukan adalah mendirikan  Kasoem Vision Care.  Layanan kesehatan mata Kasoem Vision Care tersebut didirikan pada 2015 oleh Hatta Kasoem, generasi kedua A. Kasoem. Dengan adanya Vision Care, masyarakat bisa melakukan perawatan dan pemeliharaan penglihatan berbasis solusi komprehensif dan end-to-end (dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut).

    Hal ini pun membuat banyak konsumen dan orang lain tahu bahwa Optik A. Kasoem tidak hanya peduli pada peningkatan kualitas produk, namun juga peduli dengan kualitas pelayanan melalui kepedulian terhadap kesehatan mata orang Indonesia.

    baca juga

      Pebisnis Yang memulai Dari Belajar

      Nama besar Optik Kasoem menjadi bukti kuat bahwa menjadi pebisnis harus dimulai dengan memiliki modal besar. A. Kasoem memulai bisnisnya dengan belajar. Semangat belajarnya, membuatnya untuk tetap tekun bekerja untuk mengasah kemampuannya dan mengumpulkan modal usaha. Ketika ia sudah merasa siap, ia membuka usahanya.

      Bukan semata karena ingin memperkaya diri, namun juga bermanfaat dan membanggakan bagi bangsa sendiri. Seperti A. Kasoem yang membuka bisnis optik pertama di Indonesia sekaligus membantu para tokoh pejuang dan membuka peluang bagi orang Indonesia lainnya untuk terjun ke dunia bisnis optik.

      Alhasil, banyak tokoh pejuang yang terbantu dengan kacamata yang dibuatnya, ia menjadi pelopor bisnis optik pertama yang sukses, dan karenanya, muncul optik-optik lain  yang bagus dan berkualitas di Indonesia.



      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *

      You May Also Like
      Read More

      Spotify

      Undercover.co.id — Bagi sebagian orang, musik adalah teman bagi kegiatan sehari-hari. Rasa-rasanya ada yang kurang jika harus mengendalikan…