Undercover.co.id – Cerpen Bisnis

“Gimana ya, Ton?”

Setengah jam lebih Anton mendengar keluh kesah Tio. Sahabat kentalnya itu sedang uring-uringan. Usaha kue kering istrinya seperti tidak bergerak kemana-mana.

Menguntungkan? Jelas tidak. Wong tiap bulan Tio masih harus nombokin dengan gaji bulanannya yang pas-pasan.

Ditutup juga bukan pilihan. Tiga-empat tetangga tiap hari masih suka datang untuk beli setoples nastar yang lezat itu. Beberapa kadang memesan untuk acara arisan atau pengajian bulanan.

Lezat tentu hanya untuk sekelumit orang di gang itu. Karena memang nanasnya legit dan harganya terjangkau. Tapi, pembelinya tidak pernah lebih dari gang sempit itu. Dan itu yang bikin Tio senewen.

“Banyak yang bilang enak. Murah lagi. Tapi kenapa tidak jadi terkenal seperti kue-kue artis itu ya, Ton?”

Tiba-tiba satu driver ojek online masuk ke warung kopi tempat mereka duduk. Si driver langsung saja ke penjual, lantas menunjukkan layar ponselnya. Tidak sampai 10 menit, dia membawa tentengan kantong plastik keluar warung.

Sebenarnya sudah sejak awal Tio tahu solusi usaha nastar sahabatnya ini. Namun dia menunggu momen itu datang.

Momen ketika driver ojek online masuk ke warung kopi.

“Kamu tahu kan, Yo, tukang ojek itu bawa makanan pesanan orang lewat aplikasi. Kamu tahu apa yang dia tenteng tadi? Indomie rebus!”

“Iya…. terus?” Tio masih merangkai puzzle.

“Orang nitip beliin indomie, Yo! Makanan yang masaknya gak sampe 10 menit. Belum tambah biaya antar. Belum lagi tambah pulsa buat ngomong sama abang ojeknya. Kamu tahu, Yo, kenapa mereka kayak gitu?”

“Ya karena laper lah, Ton.”

Anton hampir menyiram kopi panas ke wajah orang di hadapannya. Sebelum dia ingat orang itu adalah Tio, sahabatnya yang masih belum sadar bahwa dia sudah terlalu lama menjadi analog di dunia yang serba digital.

“Bukan, Yo,” Anton mendehem, “mereka kayak gitu karena mereka malas!”

“Hmm oke. Jadi, Ton?”

“Jadi, Yo, okelah kuemu itu enak. Tapi calon pembelimu itu harus kamu kasih tahu karena mereka malas untuk cari tahu!

Dua orang itu lantas terdiam. Mata mereka saling memandang. Banyak yang terlintas di kepala masing-masing. Namun Anton dan Tio saling menunggu lawan bicaranya untuk berbicara terlebih dahulu.

Akhirnya Tio memulai.

“Sekarang semua sudah online ya, Ton.. Pantas warung kueku gak kemana-mana. Wong promosi aja paling dari mulut ke mulut.”

“Iya, Yo. Kuncinya itu. Online. Digital. Semua orang, bapak-bapak atau anak-anak, kaya beneran atau yang sok-sokan kaya, semua pegang hape. Lagipula, gak kayak warungmu, Yo. Toko online gak ada jam tutupnya.”

Tio tersadar. Berminggu-minggu dia uring-uringan mencari tahu. Apa yang salah dari nastarnya. Resepnya sudah. Harganya standar. Promosinya sudah kencang ke teman-teman kantor dan tetangga.

Gak ada jam tutup.

Kini dia sadar. Bukan pelanggan yang harus ikut dia. Tapi, dia sendiri yang harus ikut aturan main pembeli. Pembeli perlu difasilitasi. Pembeli mau dimanjakan.

Pembeli mau ‘mengunjungi’ toko ketika mereka tidur-tiduran di kasur.

“Aku harus cari tahu cara menjual kueku di toko online, Ton.”

Anton berdiri, dua tangannya melebar. Persis seperti atlet sepeda SEA Games yang finish terdepan. Tangannya terentang, pita kuning finish robek di dadanya. Lega.

Dia tidak tahu keriuhan apa yang terjadi di kepala Tio dalam lima menit terakhir. Dia hanya menunggu sahabatnya mengucapkan satu kata mantra itu.

Toko online.

“Tapi gimana cara bukanya ya, Ton?”

Anton lantas menyesal sudah melakukan selebrasi ala atlet sepeda. Sahabatnya ini masih antik. Di era sekarang, Tio masih lebih memilih bertanya pada manusia ketimbang Google. Padahal sejak tadi hape Android Tio tergeletak di samping gelas kopinya.

“Kita harus melihat toko online punya orang, Yo. Gapapa nyontek dikit hehe, kan baru belajar.”

Berpuluh menit kemudian kedua orang itu sibuk membuka-buka situs belanja online. Dua lembar tisu warung mereka pakai untuk mencoret-coret.

“Toko online seperti ini berguna banget ya buat usaha kecil kayak punyaku. Aku jelas gak kuat pasang baliho, atau ngiklan di koran. Kalo online gini kan murah. Cuma modal paket data hehe.”

“Iya bener banget, Yo. Tadi kita udah sama-sama baca di Google kan. Kamu bisa mulai buka lapak di toko online kayak Tokopedia atau Shopee, Yo. Untuk saat ini lewat penyedia seperti mereka dulu saja, gapapa dipotong biaya admin. Nah, kalo udah gede, baru deh bikin web biar berdiri sendiri.”

Tio manggut-manggut. Dia punya banyak bahan diskusi dengan istrinya malam ini.

“Makasih banyak ya, Ton. Aku yakin istriku pasti setuju sama ide ini.”

“Pokoknya pake iming-iming ‘tokomu gak punya jam tutup’ aja, Yo, hehe. Jadi istrimu tetep bisa ‘jaga toko’ sambil mandiin anak, beres-beres rumah, semuanya deh. Bahkan bisa ditinggal tidur tapi tetep buka!”

Mereka tertawa semakin keras.

Ada Diskon untuk Nastar

Sudah hampir seminggu ini Anton ngopi sendirian di warung. Padahal biasanya tanpa janjian pun dia dan Tio nongkrong bersama ba’da Isya.

Sejak terakhir merumuskan toko online nastar istrinya, sahabatnya itu tidak muncul lagi batang hidungnya.

“Tio.. Tio.. apa kamu beneran jadi sering ketiduran mentang-mentang toko onlinemu bisa ditinggal tidur?” Anton bergumam sendiri ke gelas kopinya.

Atau karena tokonya sudah laris ya, dia jadi lupa sama aku. Benar memang, cuan bikin lupa temen!

Rutuk Anton dalam hati. Dia menghisap lagi rokoknya, dalam…

“Gak diminum kopinya, Ton? Dingin loh.”

Anton teriak dan hampir melompat dari kursinya. Pengunjung lain sontak melihat ke arahnya. Ke arah Anton dan manusia lain yang meringkuk di sebelahnya.

Ada Tio, nyengir tanpa dosa.

“Sejak kapan kamu duduk di sebelahku?!”

“Lah udah daritadi, gak denger apa aku mesen mie rebus ke Mang Danang?”

Warung kopi Mang Danang modelnya memanjang. Ada tiga bangku kayu dijejer, jadi para pengunjung duduk sebelahan. Mang Danang melayani di depan, lengkap dengan tumpukan Indomie dan kopi sachetan yang bergelantung.

Wajar Anton tidak bisa melihat kedatangan Tio, kecuali dia membalik badan.

Tapi, ternyata… jauh dari perkiraan. Muka Tio masih kusut seperti seminggu lalu.

“Pembeli kueku pada komplain, Ton, kata mereka harganya mahal.” Cepat saja Tio curhat tanpa ditanya.

“Kemana aja kamu, Yo, kok baru muncul?”

“Ya masak mau dimurahin lagi. Apa aku kudu campur isi nastarku pake selai nanas? Ya kan gak mungkin, Ton.”

Tio tidak menjawab Anton, namun terus saja nyerocos masalah.

“Atau pake tepung merk gak jelas gitu? Dapet murah tapi nastarku bau apek.”

Anton cepat memotong.

“Memang toko nastarmu,” Anton sengaja mengucapkan nastar agar Tio fokus padanya, “buka dimana, Yo?”

“Aku baru promosi lewat Facebook punyaku dan istriku, Ton, sama apa itu yang isinya orang suka pamer? Instagram! Iya, itu. Aku dibantu keponakanku bikin akun Instagram. Kok orang pada pamer ya beli ini itu. Kayak pada bayar pajak aja.”

Anton tergelak dalam hati. Sahabatnya ini memang antik. Komentar-komentarnya jadul tapi jujur.

“Coba buka Facebook dan Instagram punyamu, Yo. Sini kulihat apa yang salah.”

Cepat saja hape Tio berpindah tangan. Anton menaik-turunkan kursor, sesekali bergumam. Tepat saat Tio sudah menghabiskan mie rebusnya, Anton berkomentar.

“Ada dua hal, Yo. Pertama, media sosial memang bisa menjangkau teman-temanmu. Tapi orang lain? Belum tentu. Dan karakter mereka itu ya sama aja, Yo, sama yang hobi ke toko fisik. Suka nyari diskonan!”

“Lha iya apa aku harus pake selai…”

Tapi Anton cepat memotong kalimat Tio.

“Diskonan itu bisa diakali, Yo. Kamu gabung aja ke toko online gede kayak Tokopedia atau Shopee. Mereka banjir voucher dan cashback! Pembeli dapet diskon, tapi bukan kamu yang nanggung. Asik gak?”

Tio terlihat berpikir keras. Ada diskon, tapi gak ditanggung penjual. Gimana caranya.

“Kok bisa kayak gitu, Ton? Mereka jadi pihak tengah, tapi buang duit juga?”

“Yowislah bukan urusan kita itu hehehe. Pembeli online itu beragam, Yo. Ada yang males, rela bayar mahal abang ojek buat bungkus Indomie. Sama ada yang orang susah, beli online karena nyari cashback dan gamau keluar uang bensin!”

Tio manggut-manggut, terlihat berpikir sebentar.

“Mirip kamu ini ya, Ton. Beli kopi segelas aja minum dilama-lamain. Kopi item lagi yang murah hehehe.”

Anton hampir menyiram kopi ke wajah Tio, sebelum dia ingat di gelasnya hanya tertinggal ampas.

“Tambah air panasnya, Mas?” Mang Danang yang ternyata menguping ikut menggoda Anton.

Sembari tertawa melihat Mang Danang menuang isi termos ke kopi Anton yang wajahnya memerah malu, Tio berkomentar.

“Oke, pertama soal diskon. Yang kedua apa, Ton?”

“Gulanya tambahin juga lah, Mang..” Kepalang tanggung, Anton minta refill gratis.

“Oke yang kedua, soal foto nastarmu.” Segar disiram kopi panas, lidah Anton kembali lincah menjawab.

“Orang belanja online itu sebenarnya punya kelemahan, Yo. Mereka gak bisa megang, nyium, atau mencicipi kuemu. Jadi mereka harus kamu fasilitasi. Bikin mereka kayak bisa ngira-ngira rasa dan aroma nastarmu. Jadi… jangan ambil foto dari Google!!”

“Lah tapi aku lihat yang lain juga gitu, Ton?”

“Ya kalo semua penjual pasang foto Google, kita gimana ngebedainnya? Wong semua gambarnya sama. Itu di Instagram. Ini di Facebook-mu foto asli sih, cuman kok buram banget. Foto makanan harus terang biar menggiurkan, Yo. Ini malah kamu foto nastar di sebelah asbak, penuh lagi asbaknya. Apa orang gak pada geli?”

Tio berpikir. Ternyata jualan online ada seninya sendiri. Bukan cuma asal foto dan jual. Masih banyak unsur lain yang harus dipertimbangkan. Dia penasaran, kendala apa lagi yang akan dia temui nanti.

“Makasih ya, Ton, otakmu encer banget soal ginian. Aku pulang dulu ngobrol sama istriku.”

Belum lima langkah, Anton berteriak kencang.

“Ya wajar kuemu seret gak berkah, mie rebus aja pura-pura lupa bayar!”

You May Also Like