Undercover.co.id – Sebagai penikmat kuliner Indonesia, Anda pasti sangat akrab dengan keberadaan bumbu dapur berbentuk cair hitam dan manis, yaitu kecap. Kecap tidak hanya menjadi bumbu dapur, melainkan sering disajikan bersama hidangan siap makan, sebagai pelengkap dan penambah rasa manis sesuai selera. Tahukan Anda, jika kecap di Indonesia sangat beragam? Mulai dari kecap yang dijual dalam skala nasional hingga kecap yang diproduksi di beberapa daerah seperti kota atau kabupaten.

Pada dasarnya, kecap yang dijual dalam skala nasional berawal dari produk lokal suatu daerah bagian yang melegenda rasanya. Salah satunya adalah Kecap Piring Lombok. Keunikan dari Kecap Piring Lombok adalah pemakaian gula aren atau gula jawa sebagai bahan baku pembuatan.

Kecap Piring Lombok dibuat dengan dua varian, yakni kecap manis dan kecap manis sedang. Kecap manis Piring Lombok memiliki rasa dan aroma yang kuat serta kekentalan yang berasal dari kedelai pilihan dan gula jawa murni.

Varian manis kental yang cocok sebagai bumbu masakan istimewa Anda ini, tersedia dalam kemasan botol, sachet, dan galon. Untuk kecap varian manis sedang yang memiliki rasa manis dan aroma yang lebih ringan, sangat pas untuk pelengkap hidangan seperti cocolan gorengan, hingga untuk sambal kecap.

Varian manis sedang Kecap Piring Lombok tersedia dalam ukuran 140 ml (botol plastik) dan 600 ml (botol biasa).

Awal Mula Berdirinya Kecap Piring Lombok

Kecap Piring Lombok dibuat oleh Hoo Liang pada 1930. Ia merintis bisnis kecapnya dengan memproduksi kecap dalam skala kecil  di rumahnya, Jalan Suyudono 76, Semarang.

Dulunya, kecap buatannya ia beri nama “Lombok”, namun karena nama tersebut sudah digunakan oleh produsen kecap di Surabaya, ia pun memilih menggunakan merk “Piring Lombok” dengan kemasan yang didominasi warna merah.

Tiga puluh lima tahun kemudian, yaitu sekitar 1965, ia menyerahkan bisnisnya kepada anak semata wayangnya yaitu Hadisiswanto dan istrinya, Lenawati Pudjoastuti.

Di tangan mereka, Kecap Piring Lombok menjadi kecap pertama yang menggunakan kemasan plastik refill. DI masa itu, kecap biasanya dikemas dalam botol kaca, namun karena botol kaca mulai terbatas jumlahnya, harga kecap menjadi mahal.

Mahal yang dikarenakan kemasan botol tersebut menggerakkan Hadisiswanto dan istrinya untuk membuat terobosan baru dengan mengemas kecap dalam wadah plastik refill atau isi ulang.

Beberapa tahun berikutnya, pasangan suami istri tersebut mulai memperluas bisnis Kecap Piring Lombok. Mereka membangun pabrik kecap di lahan kawasan Tambak Aji, seluas 6 hektare pada 1985.

Lima tahun kemudian, pada 1990, keduanya bekerja sama dengan perusahaan milik Liem Sioe Liong, yaitu Indofood. Indofood melakukan kerja sama dengan keluarga Hadisiswanto dengan tujuan untuk menahan laju produk ABC di Jawa Tengah.

Sayangnya, kerja sama kedua pihak tersebut tidak bertahan lama. Pada 1991, terjadi pemutusan kerja sama. Namun, merk dagang Kecap Piring Lombok menjadi milik Indofood sedangkan keluarga Hadisiswanto tetap memproduksi kecap dengan nama Kecap Sukasari, di wilayah Genuksari, Semarang.

Daerah Awal Kekuasaan Distribusi Kecap Piring Lombok

Kecap Piring Lombok memegang kekuasaan yang cukup luas di Jawa Tengah, terutama Semarang, meski sudah ada merk kecap lain seperti Bango dan ABC.

Ketiganya bersaing ketat di ibu kota Jawa Tengah tersebut. Meski demikian, berdasarkan survei brand share pada 2011,  Kecap Piring Lombok bisa saja merebut kekuasaan Kecap Bango, karena selisih pangsa pasar tidak jauh berbeda, yakni 25,41% untuk Kecap Bango dan 23,07% untuk Kecap Piring Lombok.

Sejak mengakuisisi Kecap Piring Lombok, Indofood melakukan banyak pembenahan, karena brand share Kecap Indofood di Semarang hanya 6,36%. Sekitar 2014, Indofood merevitalisasi Kecap Piring Lombok, terutama dalam pengiklanan. Dengan adanya logo Indofood pada Kecap Piring Lombok, membuat semangat persaingan bisnis kecap di Semarang muncul kembali, Indofood juga gencar melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan langsung peran masyarakat seperti acara Banjir Kanal Barat (BKB Fest).

Kecap Piring Lombok adalah satu dari sekian banyaknya bisnis kecap di Indonesia yang berhasil. Keberadaannya yang populer dan menjadi favorit banyak orang, terutama di wilayah Semarang dan Jawa Tengah. Meski pada akhirnya bisnis yang bermula dari lokal tersebut, diakuisis oleh perusahaan nasional yang lebih besar, eksistensi merk dagang Kecap Piring Lombok masih tetap dipertahankan.

Akusisi Perusahaan Lokal Oleh Pebisnis Besar

Beberapa pengamat bisnis lokal menyatakan bahwa amat disayangkan ketika bisnis lokal berpindah tangan kepemilikan karena faktor kurangnya upaya mempopulerkan produk dalam skala besar. Fenomena akuisisi oleh perusahaan nasional dengan pangsa pasar yang lebih besar, terjadi di zaman yang belum mengenal kecanggihan teknologi dan infomasi seperti saat ini.

Tentu hal ini bisa dimaklumi, namun tetap saja perlu perhatian khusus. Ketika sebuah daerah memiliki produk lokal yang populer, hal itu dapat memunculkan peluang lahirnya bisnisbisnis lokal lainnya, dengan kata lain sukses satu, tumbuh sepuluh.

Kisah bisnis yang sudah dialami Kecap Piring Lombok menjadi sebuah sejarah yang wajib Anda ketahui sebagai  wirausaha maupun calon wirausahawan. Di zaman serba canggih, untuk mempopulerkan Kecap Piring Lombok seharusnya tidak harus membutuhkan biaya yang tinggi, meski kepastian keberhasilannya tidak akurat.

baca juga

Branding Melalui Promosi dan Inovasi Product

Selain itu, faktor inovasi dan kreativitas produk juga menjadi poin penting dalam mempertahankan bisnis lokal. Masyarakat yang hari ini semakin pemilih dan pintar dalam melihat produk yang memberi manfaat lebih, menjadi tantangan bagi para pebisnis lokal.

Mulai dari jargon produk, diskon atau bonus pembelian, kemudahan mendapatkan produk, varian jenis, kemasan, hingga pengaruh pengiklan (brand ambassador) menjadi faktor penting yang bisa meningkatkan jumlah konsumen atau brand share product. Berikut adalah uraian singkatnya.

  1. Jargon unik yang menjadi kebanggaan setiap produsen kecap di Indonesia pada tahun 90an adalah “Kecap Nomor Satu”. Jargon yang belum diketahui asal usulnya tersebut, sudah dianggap sebagai milik bersama hingga banyak orang menilai bahwa tidak ada “Kecap Nomor Dua” di Indonesia. Namun, saat ini, sudah jarang terdengar produsen kecap yang menggunakan jargon legenda itu, yang mungkin disebabkan oleh kepercayaan diri dari para produsen kecap sehingga mereka lebih memilih membuat jargonnya sendiri.

Keadaan tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang untuk produsen kecap baru untuk membangkitkan semangat lama yang sempat padam. Atau sebaliknya, membuat jargon serupa yang lebih mudah dikenal dan diingat orang.

  1. Banyak produk yang saat ini memanfaatkan kata diskon atau bonus untuk menarik minat pembeli, misalnya diskon 20% untuk pembelian di atas Rp 200.000,- atau bonus piring cantik untuk pembelian kemasan botol besar. Hal ini terbukti mampu memberikan peningkatan jumlah penjualan meski tidak terjadi setiap waktu.
  2. Produk yang mudah didapat juga menguntungkan pembeli dan produsen. Jika produsen mengalami kendala dalam ekspedisi yang disebabkan oleh faktor cuaca atau kekhawatiran karena kerugian pengiriman, kemajuan teknologi dan informasi saat ini sangat bisa diandalkan. Banyak pebisnis yang menyediakan jual beli online dalam skala keci hingga grosir. Dengan kata lain, produk dikirim berdasarkan permintaan konsumen. Tentu hal ini bisa meningkatkan penjualan ketika produk sudah dikenal secara luas.
  3. Varian jenis produk menjadi faktor pertimbangan konsumen ketika membeli suatu produk. Bisa karena kebutuhan atau sekadar coba-coba. Varian yang beragam bisa memenuhi kebutuhan konsumen secara spesifik, seperti kecap kental manis atau kecap manis sedang. Selain itu, varian yang beragam juga bisa memunculkan rasa penasaran konsumen untuk mencobanya.
  4. Penampilan produk yang menarik juga mampu menarik minat beli konsumen. Karena itu, kemasan produk menjadi poin penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memasarkan produk, seperti keserasian desain dan fungsionalitasnya.
  5. Jika ingin memanfaatkan animo masyarakat secara luas, pebisnis bisa menggunakan pengiklan (brand ambassador) yang memiliki pengaruh secara luas, misalnya aktor, pakar kuliner, hingga artis instagram.

Faktor-faktor tersebut perlu Anda perhatikan untuk menyusun strategi penjualan yang baik atau sebagai jalan untuk menemukan solusi terbaik sebelum menyerahkan bisnis Anda ke perusahaan lain. Tentu saja, masih banyak faktor lainnya yang bisa Anda temukan jika Anda melakukan riset atau kajian bisnis.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like