4 Salah Kaprah tentang Balik Modal Bisnis Waralaba

Waralaba merupakan bisnis yang didasari oleh kesepakatan antara pihak yang menjalani bisnis waralaba dan pemilik bisnis waralaba itu sendiri.

Kesepakatan tersebut diikat dalam perjanjian yang memiliki kekuatan hukum.

Dalam praktiknya, bisnis waralaba mengharuskan pihak yang menjalaninya untuk menginvestasikan dana demi kelancaran bisnis waralaba.

Dana tersebut bisa diperoleh dari hasil keuntungan penjualanan produk atau hasil bisnis lainnya.

Lalu, apakah bisnis ini nantinya akan menguntungkan jika mengharuskan adanya pembayaran dari hasil keuntungan bisnis?

Waralaba tidak hanya berbicara tentang keuntungan saja.

Dengan kata lain, pebisnis waralaba sudah harus bersedia terhadap kerugian yang akan menemuinya di kemudian hari.

Ini juga yang melatarbelakangi timbulnya masalah salah kaprah tentang balik modal.

Lalu, seperti apa mekanisme waralaba agar pebisnis waralaba tidak salah kaprah tentang balik modal?

Berikut adalah ulasannya.

  1. Omset

Hal ini masih menjadi perdebatan karena omset termasuk sesuatu yang masuk akal dalam menjadi penentu balik modal waralaba.

Dalam kasusnya, butuh waktu yang cukup lama agar pihak yang menjalani bisnis waralaba bisa mendapatkan modalnya kembali.

Contoh kasusnya adalah jika paket waralaba dibanderol dengan biaya 300 juta, sementara omset penjualanan berkisar 100 hingga 200 juta setiap bulannya.

Maka, waktu yang dibutuhkan untuk balik modal adalah sekitar dua hingga tiga bulan.

  • Gross Profit

Selain dengan memanfaatkan omset, terdapat cara yang kedua untuk menghitung balik modal.

Gross profit adalah alternatif lainnya dalam menghitung balik modal.

Pada gross profit, keuntungan dihitung dari setiap produk yang terjual.

Jika satuan produk dijual sebesar Rp.10.000 dengan keuntungaan sebesar Rp. 2.000 per satuan, maka akan didapat Rp.1.000.000 untuk  500 produk yang terjual di setiap harinya.

Apabila modal awal dikeluarkan sebesar Rp.50.000.000, maka dibutuhkan waktu selama dua bulan untuk balik modal.

  • Paket Waralaba

Paket waralaba kompresif sangat menjamin balik modal dalam usaha waralaba.

Itu artinya, paket waralaba yang ditawarkan harus mencakup seluruh kebutuhan bisnis waralaba tanpa terkecuali.

Contoh kasusnya adalah bisnis waralaba kebab. Jika seluruh fasilitas sudah terpenuhi, barulah keuntungan dapat dihitung secara jelas.

Beberapa kelengkapan bisnis ini di antaranya adalah alat-alat dapur, kebutuhan konsumen seperti peralatan makan, pendingin ruangan, dan lain sebagainya.

Perlengkapan bisnis juga bisa disesuaikan dengan bisnis waralaba apa yang tengah ditangani.

  • Total Investasi

Pendapat berikutnya menuturkan bahwa balik modal dapat diukur dengan total investasi atau arus kas.

Terdapat dua pendapat akan hal ini yaitu hitungan balik modal sebelum dikenakan pajak atau nilai aset.

baca juga

Sehingga, balik modal diperhitungkan setelah mengeluarkan biaya depresiasi, pra-operasional, soft opening, pelatihan, hingga perjanjian.

Perlu diketahui bahwa perhitungan balik modal bisnis waralaba didapat setelah memperhitungkan biaya utama penjualanan dan operasional bisnis waralaba.

baca juga

Editor’s Choices

1000 Ide Bisnis UKM Modal Kecil

Daftar 600 Bisnis Franchise

800 Jenis usaha yang menjanjikan Dengan Modal Kecil

Panduan Bisnis Franchise

500 Master Franchise

Pemahaman lebih lanjut tentang balik modal adalah perhitungan keuntungan yang  sudah dilakukan dengan mengakumulasi EBITDA (Earning Before Interest, Tax, Depreciation, and Amortization) atau pendapatan sebelum berbunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

You May Also Like